Resign or Not Resign?

Kamu yang bekerja sebagai karyawan, pasti pernah merasa jenuh, bahkan lelah bekerja. Ya, hampir separuh waktu kita habis untuk bekerja. Rasa jenuh dan lelah ini bisa hinggap di tiap fase: saat masih jadi first-jobber, ketika di mid-career-level, juga saat di posisi puncak mendekati pensiun. Pertanyaannya: apakah solusi dari jenuh dan lelah bekerja adalah resign? Belum tentu.

It happened to me sekitar 6-7 tahun lalu. Keinginan resign sudah begitu kuat, galaunya luar biasa, tapi tak terlaksana karena kondisi keuangan tidak memungkinkan. Jadi kalaupun resign dari satu tempat kerja, saya tetap harus bekerja di tempat lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mau mulai usaha? Pada saat itu visi saya juga belum jelas. Artinya resign bakal jadi perbuatan nekat tanpa tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya. Maka teruslah saya bekerja sambil membuat perencanaan keuangan. Galaunya terpaksa ditelan saja. Kalau kata Mak Ririn, sang komando dari geng pertemanan saya yang punya slogan #antibokek : “mendingan kzl tapi punya uang daripada kzl tapi ga punya uang.” 🤑➡️

Hingga suatu hari tiba (sekitar 2 tahun lalu) dimana saya “harus” berhenti bekerja, dan ternyata lumayan juga hasil bekerja >15 tahun.

Jadi dasar membuat keputusan resign atau tidak resign bukan karena jenuh, lelah, karir yang mandek, atasan yang menyebalkan, atau ada potensi diri yang belum teraktualisasi. Tetapi sejauh mana kita bisa mengevaluasi kebutuhan hidup saat ini dan mempersiapkan masa depan. Kebutuhan ini mulai dari yang wajib, sampai yang berupa gaya hidup (termasuk gengsi dan status). Apalagi kalau sudah terbiasa jadi karyawan di level menengah atau puncak yang mendapat berbagai fasilitas, seperti kesehatan, rumah, kendaraan, dll. Sejauh mana kita bisa menyesuaikan gaya hidup, dari yang biasa berobat di RS swasta menjadi pasien pengguna BPJS, misalnya?

Kalau bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, apakah artinya kita harus terus bekerja? Bagaimana dengan work-life balance, idealisme, passion, atau cita-cita lainnya? Well, sejujurnya semua itu butuh modal. Perlu disadari juga bahwa menemukan passion tidak mudah. Begitu ketemu, kita harus membangun kompetensi untuk menjalankan passion itu. Perlu konsistensi, fokus dan keteguhan yang sangat kuat sampai akhirnya passion itu berhasil dan memberikan manfaat.

Nah, disini keuangan bisa menjadi salah satu kompetensi yang harus dibangun. Bukan berarti kita harus punya uang banyak untuk menjalankan passion, tetapi uang sedikit pun bisa jadi modal dan kita jadi lebih paham dengan proses pendanaan dan perhitungan bisnis. Passion yang baik akan menghasilkan value yang baik juga kan?

Jadi solusi jenuh dan lelah bekerja apa dong? Ya istirahatlah sejenak dan berpikir ulang mengenai kehidupan. Nggak ada yang salah dengan resign dan nggak ada yang salah juga dengan terus bekerja. Yang penting membuat pilihan dengan bertanggung jawab dan nggak jadi bokek. Juga ikhlas ya. Setuju kan? 🤓😜


METTA ANGGRIANI, CFP®

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *