Dana Menikah

Ya, setiap orang pasti punya ‘wedding dream’. Yang namanya dream, pantas diusahakan agar tercapai. Tentu harus sesuai kemampuan ya. Pesta pernikahan adalah “real exercise between needs vs wants.” Kebutuhan pesta pernikahan itu sebenarnya simple aja, tapi keinginan, gengsi dan status yang membuat pesta pernikahan menjadi suatu kemewahan yang tiada berbatas. Asal tau aja, royal wedding ala-ala gitu bisa menelan biaya ratusan juta hingga miliaran rupiah. Is it really your dream to spend that amount of money for your wedding? 

Akhirnya yang namanya ‘dream’ juga harus bisa menyesuaikan dengan ‘reality.’ Realitas yang paling penting harus dihadapi adalah persiapan kehidupan rumah tangga setelah menikah, bukan hanya pesta pernikahan saja. Karena setelah menikah, sepasang kekasih menjadi satu entitas independen yang harus menjalankan hidupnya sendiri. Kebutuhan hidup tak lagi hanya dua: suami & istri, tapi bisa berkembang menjadi tiga, lima, dst.

Persiapan pernikahan sangat penting untuk mengukur segala kebutuhan sebelum, pada saat, dan sesudah pernikahan. Faktor finansial juga salah satu yang perlu dipersiapkan. Coba ikuti beberapa tips ini:

1. Siapkan Dana Menikah jauh-jauh hari sebelumnya. 

Nggak perlu nunggu punya calon baru bikin dana menikah lho. Kalau memang kamu ingin berumah tangga suatu hari nanti, bersikaplah visioner dengan menyiapkan keuanganmu sedini mungkin. Laki-laki dan perempuan sama-sama perlu nabung untuk menyiapkan dana menikah. Hari gini, selain harga naik dengan cepat, kebersamaan dibangun dengan saling berbagi tanggung jawab. Kalau saat masih ‘single’ kamu sudah terbiasa mengatur keuangan, maka kamu akan lebih mudah mengatur pos-pos rumah tangga saat sudah menikah. Jadi mulailah dengan berapapun kemampuanmu menabung untuk dana menikah sekarang juga. Jadi pas jodohmu datang, berapapun tabungan yang terkumpul dapat membantu mewujudkan ‘wedding dream’ kamu.

2. Jangan berhutang untuk menikah. 

Ini poin paling penting ya: buatlah pesta pernikahan yang sesuai dengan kemampuan kocekmu. Perayaan pernikahan memang sebuah momentum penting dalam hidup, tetapi bukan berarti harus diada-adakan atau dipaksakan. Yang penting adalah sahnya sebuah pernikahan dalam suasana yang khidmat. Tak perlu berlebihan sampai nantinya kamu harus dikejar ‘debt collector’ saat sudah menikah. 

Oleh karena itu, buatlah ‘wedding checklist’ dan tandai bagian mana saja yang sifatnya wajib, dan mana yang ‘nice to have’. Nah, yang biasanya bikin ribet adalah banyaknya kepentingan yang berperan dalam pesta pernikahan itu. Tak hanya kedua calon mempelai, tapi juga orang tua dan keluarga dari masing-masing pihak. Disini memang kamu harus tegas membuat budget dan menyusun prioritas. Potensi konflik sangat mungkin terjadi, maka komunikasi yang baik antar keluarga sangat diperlukan.

3. Jangan berharap dari angpau. 

Hampir semua items dalam pesta pernikahan harus dibayar lunas sebelum hari-H. Jadi pastikan semua items tsb dibayarkan dengan dana yang sudah tersedia (ingat jangan berhutang tadi ya). Angpau atau hadiah pernikahan adalah bonus dan tanda kasih sayang dari rekan-rekan yang hadir di pestamu, maka sebaiknya digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat untuk kehidupan rumah tanggamu, misalnya: untuk mengisi rumah, dsb.

4. Perhitungkan kebutuhan rumah tangga setelah menikah. 

Kebutuhan saat lajang dan saat menikah sama sekali berbeda. Kadang tak berarti menjadi lebih hemat karena segala sesuatunya ditanggung berdua, tapi besar kemungkinan kebutuhan menjadi bertambah. Mulai dari menyiapkan tempat tinggal, sampai persiapan kehamilan. 

Dengan memperhitungkan 4 hal ini, kamu bisa menyeimbangkan pengeluaran untuk pesta pernikahan dan modal awal rumah tangga. Mungkin ‘wedding dream’ perlu disesuaikan, tapi mungkin bisa digeser menjadi ‘marriage dream’ yang lebih jangka panjang. 

Seperti halnya membangun rumah perlu pondasi yang kokoh, membangun rumah tangga juga perlu dasar perencanaan keuangan yang mapan. Pada saat jatuh cinta, semuanya memang terasa indah. Tetapi membangun rumah tangga nggak cukup hanya bermodalkan cinta, perlu juga logika yang akan menentukan visi dan komitmen dalam pernikahanmu. 

Percayalah, dalam kenyataannya nggak akan semudah itu. Menyatukan dua kepala dalam rumah tangga adalah hal yang sulit, apalagi soal keuangan. Kebiasaan membelanjakan dan menyimpan uang seseorang tidak dapat berubah dalam sekejap, perlu proses komunikasi dan sikap toleran. Dalam hal ini, apabila diperlukan, seorang Perencana Keuangan dapat membantu pasangan muda dalam merencanakan keuangan rumah tangga secara obyektif. 

Jadi rencanakan pernikahanmu dengan sebaik-baiknya ya. Demi masa depan keluarga sejahtera.  METTA ANGGRIANI, CFP®

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *