Menjaga Kestabilan Rupiah

Tanggal 30 Oktober lalu diperingati sebagai Hari Oeang Republik Indonesia (ORI), karena 30 Oktober 1946 adalah pertama kalinya diterbitkan satu mata uang resmi negara Indonesia. ORI beredar di Indonesia pada periode 1946 – 1949. Sejak 2 November 1949, Indonesia menetapkan Rupiah sebagai mata uang kebangsaannya yang baru.

Rupiah telah mengalami perjalanan yang panjang selama 68 tahun ini. Di tahun 1964 – 1978, nilai Rupiah ditetapkan oleh Pemerintah (fixed exchange rate). Pada masa ini, Rupiah telah mengalami devaluasi beberapa kali untuk menyesuaikan nilainya di pasar.

Setelahnya di tahun 1978 – 1997, Indonesia menggunakan sistem kurs mengambang terkendali (managed floating exchange rate), dimana nilai tukar Rupiah ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran, namun Pemerintah dapat juga melakukan intervensi pasar untuk mengatur kebijakan moneter dan fiskal.

Sejak 1997, perekonomian kita menggunakan sistem kurs mengambang bebas (free floating rate) dimana pemerintah tidak melakukan intervensi lagi sehingga nilai tukar Rupiah sepenuhnya ditentukan oleh pasar. Dengan sistem kurs mengambang ini, nilai tukar Rupiah mengalami fluktuasi dalam jangka pendek dan terdepresiasi dalam jangka panjang.

Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter bertugas menjaga kestabilan nilai tukar Rupiah dengan cara menjaga inflasi dan kurs. Untuk menjaga inflasi, BI memantau jumlah barang & jasa dengan cara memastikan tingkat produksi dalam negeri mampu mencukupi kebutuhan hidup masyarakat. Untuk menjaga kurs, BI mengawasi penggunaan valuta asing untuk ekspor / impor, dan permodalan asing yang masuk / keluar Indonesia.

Kita sebagai masyarakat, apakah bisa berperan juga menjaga Rupiah? Tentu bisa. Ketika berperan sebagai konsumen, kita bisa memilih menggunakan produksi dalam negeri. Ketika kita berperan sebagai produsen, kita bisa berkarya dan berproduksi di dalam negeri dan melakukan ekspor ke luar negeri, atau bahkan menarik modal asing masuk ke Indonesia.

Secara bijak, kita juga harus menjaga tingkat konsumsi yang sesuai dengan kemampuan belanja kita dan menghindari hutang yang tidak produktif. Kredit macet bukan hanya mengganggu keuangan rumah tangga, tapi secara agregat juga mengganggu keuangan negara. Selain itu, sebagai warga negara yang baik, kita juga wajib bayar pajak untuk kelangsungan pembangunan negara.

Jangan menganggap remeh peran kecil kita untuk Rupiah ini ya. Semua bermula dari yang kecil. Bayangkan kehidupan keuanganmu sehat, kehidupan keuangan negara juga sehat. Semua saling terkait kan?

METTA ANGGRIANI, CFP®

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *