Uang Elektronik

Uang sebagai alat pembayaran telah berevolusi sangat jauh di era digital ini. Sebelumnya telah berkembang Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) seperti kartu kredit dan kartu debit, dimana dana sepenuhnya masih tersimpan dalam rekening bank dan transaksi baru dibukukan ke kartu setelah ada otorisasi. Jadi harus ada akses dan komunikasi online dulu ke komputer issuer, barulah rekening nasabah terdebit / terkredit.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, muncul yang namanya uang elektronik. Pada uang elektronik ini, uang tunai sudah dicatatkan di dalamnya, sehingga saldo tsb sepenuhnya berada dalam penguasaan pengguna. Pada saat transaksi, perpindahan dana bisa dilakukan secara offline dan tidak lagi memerlukan verifikasi ke komputer issuer.

Berdasarkan statistik dari Bank Indonesia, jumlah uang elektronik yang beredar di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat tajam di tahun 2017, yaitu lebih dari 110%. Pemicu utamanya adalah adanya aturan transaksi non-tunai di jalan tol. Namun, tanpa itupun, keberadaan uang elektronik memang sangat membantu transaksi sehari-hari menjadi lebih praktis.

Uang elektronik ini ada 2 macam, yaitu:

1. e-money, yaitu uang elektronik berbentuk kartu (chip-based) dengan saldo maksimal Rp 1 juta. Biasanya kartu ini diterbitkan oleh bank sebagai lembaga keuangan utama yang menghimpun dana masyarakat. Contohnya: Mandiri e-money, Flazz BCA, dll.

2. e-wallet, yaitu uang elektronik berbasis aplikasi (server-based) dengan saldo maksimal bisa mencapai Rp 10 juta. Selain diterbitkan oleh bank, e-wallet ini banyak juga diterbitkan oleh non-bank, seperti perusahaan telekomunikasi dan transportasi. Contohnya: T-cash Telkomsel, XL tunai, Rekening Ponsel Bank Niaga, Go-Pay, GrabPay, dll.

Kedua jenis uang elektronik ini punya keunggulan dan kekurangan. E-money lebih umum digunakan untuk transaksi non-tunai sehari-hari, contohnya membayar transportasi publik seperti TransJakarta dan Commuterline, tiket tol, dll. Sementara e-wallet mempunyai cakupan lebih luas untuk pembayaran online maupun offline di gerai ritel, termasuk pembelian pulsa telepon, pembayaran token listrik, tagihan BPJS, dsb.

Dari segi keamanan, e-wallet lebih unggul karena penggunaannya berdasarkan nomor ponsel pengguna dan memerlukan PIN sebelum bertransaksi. Sementara dalam e-money, saldo tersimpan dalam kartu, sehingga apabila apabila terjadi kehilangan, saldo tidak dapat dibekukan dan dapat digunakan oleh orang lain.

Ketika pembayaran menjadi lebih praktis dengan adanya uang elektronik, hal ini bisa memudahkan kita untuk mengatur pengeluaran sehari-hari. Bila di zaman old orang tua kita menggunakan sistem amplop untuk mengelompokkan jenis-jenis pengeluaran, di zaman now ini kita bisa mengganti amplop tsb dengan uang elektronik. Misalnya dana transportasi di e-money A, dana belanja bulanan di e-wallet B, dana hiburan di e-wallet C, dsb.

Tentu uang elektronik ini harus diisi dulu saldonya sebelum digunakan, sehingga ini bukan alat untuk berhutang. Oleh karena itu, yang harus dicermati adalah ketersediaan dana hidup bulanan yang cukup, dan kemampuan untuk mengganggarkan kebutuhan sehari-hari serta mengalokasinya dalam berbagai pos keuangan. Untuk kedua hal ini, tetap kamu harus pegang kendali. Karena kembali lagi, uang hanyalah alat pembayaran dan teknologi hanya membantu proses pembayaran tersebut. So, take charge of your finance!

METTA ANGGRIANI, CFP®

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *