Investasi atau Spekulasi?

Kalau ada tawaran investasi, banyak orang langsung tergiur. Dengan iming-iming bunga tinggi yang bisa diperoleh dalam waktu singkat, sering orang tidak berpikir terlalu panjang untuk langsung menanamkan, atau bahkan mungkin mempertaruhkan seluruh uangnya. Nah, bila sudah ada unsur pertaruhan, apakah kita masih bisa menyebutnya investasi?

Sebelumnya kita harus bisa membedakan apa itu menabung, investasi, dan spekulasi. Menabung adalah mengumpulkan uang untuk tujuan spesifik dalam jangka pendek, biasanya 1-3 tahun. Karena tujuan penggunaan uang sudah pasti, maka menabung lebih bertujuan untuk menjaga nilai uang agar tidak termakan inflasi. Oleh karena itu, menabung biasanya dilakukan dalam instrumen yang berisiko rendah dengan tingkat imbal hasil yang pasti, contohnya: deposito, tabungan emas, reksadana pasar uang.

Investasi adalah menabung dengan tujuan melipatgandakan kekayaan dalam suatu ‘range’ tertentu. Dengan target imbal hasil yang lebih tinggi, investasi juga berisiko lebih tinggi. Untuk menghadapi fluktuasi risiko tsb, biasanya investasi dilakukan dalam jangka panjang, biasanya diatas 5 tahun. Selain itu, diperlukan juga kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengukur risiko yang terkait dengan instrumen investasi tsb, baik dari segi pengetahuan maupun waktu untuk memantau pasar. It sounds more complicated, but no pain no gain, right?

Menurut Benjamin Graham, investasi harus memenuhi ketiga hal ini: analisa yang mendalam (thorough analysis), keamanan modal pokok (safety of capital), dan tingkat keuntungan yang wajar (fair rate of return). Ketika berinvestasi tidak disertai ketiga hal tsb, itulah yang disebut spekulasi. Atau sebaliknya, ketika risiko sudah dapat diukur dengan baik, namun ingin memaksimalkan imbal hasil yang lebih tinggi lagi dalam jangka pendek, atau bahkan ketika berani mempertaruhkan modal. Beda tipis memang antara reckless dengan nekat.

Bursa saham adalah contohnya. Bila mengerti cara dan kapan membeli saham apa pada suatu waktu tertentu, itu artinya kita berinvestasi saham dengan baik. Tapi bila kita asal beli saham hanya karena ikut trend beli/jual, disertai dengan ambisi rakus atau panik/takut, maka bisa dikategorikan sebagai spekulasi. Kecuali kamu orang keuangan yang handal, bila ingin berspekulasi, lakukanlah dengan ikhlas layaknya sedang beramal.

Contoh spekulasi lainnya adalah berinvestasi pada instrumen keuangan derivatif, seperti kontrak berjangka (futures), kontrak serah (forward), opsi dan swap. Produk keuangan ini jauh lebih kompleks, karena yang ditransaksikan adalah kontrak jual beli berdasarkan nilai produk tertentu (underlying asset). Namun derivatif tidak melulu spekulatif. Untuk mengatur portfolio keuangan perusahaan, derivatif dapat digunakan untuk mengalihkan risiko atau lindung nilai (hedging). It’s definitely not for everyone.

Nah, kamu sudah mulai menabung dan berinvestasi dengan baik? Jangan salah langkah ya, pelajari berbagai instrumen keuangan dan sesuaikan dengan tujuan keuanganmu. Karena sesungguhnya tidak ada 100% kepastian dalam hidup ini, jadi lakukanlah perhitungan dengan baik.

METTA ANGGRIANI, CFP®

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *