“Saya belum cukup kaya untuk berinvestasi”
Pernah dengar alasan seperti ini ketika seseorang ditanya berapa jumlah investasinya? Coba tanyakan lagi, “Karena kaya, maka berinvestasi? Atau karena berinvestasi maka jadi kaya?” Seperti ayam dan telur, mana yang duluan?
Sebenarnya faktor terpenting dalam berinvestasi itu bukan pada jumlahnya, tetapi pada waktunya. Dalam ilmu ekonomi ada inflasi, yaitu suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus, berkaitan dengan mekanisme pasar. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinyu. Jadi sesuatu yang tertunda hari ini, harus tetap dilakukan / dibayarkan di hari esok dengan nilai yang lebih tinggi.
Ada 3 prinsip dasar untuk berinvestasi:
1. Investasi
bisa dimulai dengan uang kecil.
Saat ini berinvestasi sangat mudah, bahkan bisa dimulai dari uang kecil. Hanya
dengan Rp 100,000 per bulan, sekarang kita sudah bisa membuka akun untuk
menabung saham & menabung reksadana. “Yuk Nabung Saham” ini
adalah kampanye dari Bursa Efek Indonesia, kamu bisa cek di yuknabungsaham.idx.co.id
untuk informasi lengkapnya.
2. Investasi
dilakukan sejak dini.
Ingat faktor inflasi tadi? Uang Rp 100,000 hari ini akan berbeda nilainya
dengan Rp 100,000 di masa datang. Maka investasi sebaiknya dilakukan sedini
mungkin. Semakin panjang spektrum waktu dalam berinvestasi, semakin fleksibel
kita dalam menghadapi resiko, sehingga kita bisa memperoleh return yang lebih
tinggi. Paling tidak, dengan berinvestasi kita menjaga nilai uang kita agar
tidak termakan inflasi.
3. Investasi
dilakukan secara konsisten & berkala.
Faktor waktu penting lainnya, selain kapan memulai, adalah seberapa sering
investasi dilakukan. Bila kamu seorang karyawan dengan penghasilan tetap, maka
kamu dapat mengatur anggaran investasimu secara berkala. Berinvestasi Rp
100,000 per bulan secara konsisten akan menghasilkan lebih banyak uang daripada
menabung Rp 1,2 juta per tahun secara random.
Jadi nggak ada alasan lagi untuk menunda investasi ya. Ini untuk masa depanmu sendiri koq. Setiap orang selalu ingin masa depannya lebih baik dari sekarang kan? Yuk, mari berpikir jauh ke depan…Ā
METTA ANGGRIANI, CFPĀ®

