Memutus Jebakan Hedonisme

Hedonisme merupakan paham / pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan. Manusia sejak masa kecilnya selalu mencari kesenangan dan bila tidak mencapainya, manusia itu akan mencari sesuatu yang lain lagi. 

Pandangan hedonisme ini berdampak pada gaya hidup konsumtif, yang menonjolkan kemewahan, kemegahan dan terkesan menghambur-hamburkan uang. Orang yang terjebak dalam paham hedonisme ini memandang kesenangan adalah segala-galanya, dan akan selalu berusaha untuk mengikuti modernisme, menghabiskan waktu, tenaga dan uangnya untuk mendapatkan kesenangan tsb. Sering, kesenangan itu diidentikkan dengan suatu objek tertentu, misalnya fashion, luxury goods atau tempat-tempat tertentu yang bisa mengangkat status mereka, sehingga mereka tampak selalu terdepan. Akhirnya gengsi tsb menjadi lifestyle yang harus mereka pertahankan.

Sebenarnya salah nggak sih hedonisme? Kalau memang ada uangnya, boleh nggak bergaya hedon?

Ok, pertama kita cek dulu, benar nggak ada uangnya? Kalaupun benar, alias orang itu hidup dalam keadaan serba kecukupan, ya sah-sah aja mau hidup hedon. Tapi kalau demi gaya hidup hedon itu pake ngutang, alias nggak ada uangnya, jelas nggak benar.

Kedua, seandainya emang ada uangnya, apakah uang itu mampu mempertahankan gaya hidup hedon tsb? Berapa lama? Kita harus berpikir bahwa hidup itu panjang. Sementara yang namanya gaya hidup itu sekali naik, susah turun. Selain karena faktor kenyamanan, ada juga faktor malu yang membuat seseorang enggan turun pamor. Jadi, seandainya pun ada uangnya, gaya hidup hedon ini nggak baik bila dibiarkan terus-menerus. Karena bukan hanya sebagai pemborosan (berlebih-lebihan dari apa yang sebenarnya dibutuhkan), tapi malah bisa terjerumus dalam kondisi keuangan yang tidak sehat. Selain itu juga bisa menimbulkan eksklusifitas yang berdampak pada kesenjangan sosial.

Selain memberi dampak hidup boros, perlu diwaspadai juga hedonisme ini bisa membuat orang jadi ingin “eksis” dan mencapai kesenangan dalam waktu cepat, sehingga mengambil jalan yang instan. Akibatnya banyak orang tergiur dengan iming-iming investasi dengan bunga tinggi, padahal bodong. Orang yang terjebak dalam investasi bodong ini disebabkan karena dua hal: 1) rakus/serakah, 2) tidak tahu. Kadang-kadang karena rakus jadi tidak mau tahu atau gelap mata. Padahal yang namanya investasi itu ada risikonya, bukan hanya return. Risk & return ini berdampingan, semakin tinggi return yang ditawarkan, semakin tinggi pula risikonya. Semakin instan hasilnya, biasanya semakin bodong investasinya.

Sekarang ini dengan adanya internet dan media sosial, orang terdorong untuk eksis menunjukkan dirinya yang kekinian. Gaya hidup kekinian ini mirip dengan hedonisme juga, yaitu mengutamakan kesenangan, walaupun mungkin nggak harus bermewah-mewah. Teknologi menyebabkan keinginan senang-senang itu jadi lebih kuat dan berlipat (multiplier effect), sehingga frekuensi senang-senang tsb jadi lebih sering. Mungkin sekadar nongkrong di warung kopi, tapi bila dilakukan tiap hari (atau bahkan berkali-kali dalam sehari), tentu jadi berlebihan juga.

Nah, menjelang tutup tahun, coba cek lagi gaya hidup kita di sepanjang 2019 apakah sudah termasuk hedon? Bisa nggak kita meningkatkan taraf hidup kita, tanpa harus jadi hedon di 2020? It’s your call. 

METTA ANGGRIANI, CFP®

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *